
Tahun depan, ada perubahan signifikan yang mengubah cara Perusahaan menyajikan laporan keuangan mereka. PSAK 118, yang baru diberlakukan mulai 1 Januari 2027, bukan hanya sekedar update kecil. Ini adalah transformasi besar yang menghubungkan PSAK 201 dengan IFRS 15.
Kalau dulu struktur laporan laba rugi terlihat sederhana, sekarang akan lebih terperinci. PSAK 118 menuntut perusahaan mengklasifikasikan penghasilan dan beban dalam 5 kategori:
Operating (dari aktivitas utama)
Investing (dari aset jangka panjang)
Financing (dari sumber pendanaan)
Income Tax (beban pajak)
Discontinued Operations (dari bisnis yang dihentikan)
Dalam setiap kategori, ada subtotal yang wajib ditampilkan dengan jelas, mulai dari Laba Operasi, Laba Sebelum Pajak, hingga Laba Per Saham. Struktur ini dirancang agar stakeholder bisa memahami dengan lebih baik mana pendapatan dari operasi inti dan mana dari aktivitas samping. Contohnya, investor bisa langsung lihat berapa laba yang murni dari bisinis utama perusahaan, terpisah dari gain penjualan aset atau beban keuangan.
Dari sudut pandang perpajakan, ini punya konsekuensi serius. Meski PSAK 118 adalah standar akuntansi, pengakuan pendapatan berdasarkan standar ini harus direkonsiliasi dengan ketentuan perpajakan. Misalnya, kontrak jangka panjang atau bundel produk yang kompleks bisa menciptakan perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal.
Perusahaan juga akan memulai menggunakan Management-defined Performance Measures (MPM), metrik seperti EBITDA atau Adjusted Profit yang bisa lebih relevan untuk menceritakan performa bisnis. Namun, kalau mau pakai MPM, harus punya dokumentasi yang solid. Fiskus tidak akan diterima begitu saja tanpa penjelasan yang logis. Oleh karena itu, definisi dan metodologi MPM harus konsisten, ter-audit dengan baik, dan bisa dipertanggungjawabkan atas pemeriksaan pajak.
Implementasi PSAK 118, bukan perkara sederhana. Perusahaan perlu restrukturisasi sistem akuntansi, update template laporan, dan pastikan semua tim (akuntan, IT dan perpajakan) berjalan beriringan. Kesalahpahaman dalam komunikasi antar departemen bisa berakibat fatal pada kepatuhan perpajakan, jadi komunikasi yang jelas adalah prioritas utama.
PSAK 118 adalah kesempatan bagi perusahaan untuk menyajikan laporan yang lebih relevan dan transparan. Tapi ini juga tantangan serius dalam hal rekonsiliasi perpajakan. Mulai sekarang, lebih baik dipersiapkan sistem dokumentasi, dan Tim perusahaan.
(D.G)

