
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan perkembangan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam Konferensi Pers APBNKiTa edisi Februari 2026. Dalam pemaparannya, Menteri Keuangan mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tantangan global, dengan realisasi pendapatan negara hingga 31 Januari 2026 tercatat mencapai Rp172,7 triliun.
Kinerja positif ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2025 yang berhasil tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan pertumbuhan kuartal terakhir menembus angka 5,39 persen yoy. Menteri Purbaya menegaskan bahwa momentum pertumbuhan ini terus terjaga hingga memasuki awal tahun 2026, meskipun situasi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian dari beberapa negara maju.
Berdasarkan data realisasi APBN per 31 Januari 2026, total Pendapatan Negara sebesar Rp172,7 triliun tersebut setara dengan 5,5 persen dari target APBN tahun berjalan. Komponen penerimaan ini terdiri dari Penerimaan Pajak yang berkontribusi sebesar Rp116,2 triliun, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai sebesar Rp22,6 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai Rp33,9 triliun.
Dari sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan Belanja Negara sebesar Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu anggaran. Realisasi ini mencakup Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp131,9 triliun dan Transfer ke Daerah senilai Rp95,3 triliun. Penyerapan anggaran ini diarahkan untuk mendukung program-program prioritas pemerintah agar berjalan efektif dan terukur.
Menteri Keuangan juga menyoroti posisi keseimbangan fiskal yang tetap terkendali. Hingga akhir Januari 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp54,6 triliun atau sekitar 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan defisit keseimbangan primer sebesar Rp4,2 triliun. Pemerintah memastikan kondisi APBN tetap sehat dan adaptif sebagai instrumen utama dalam melindungi masyarakat serta menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.
